Saham Bank Kecil dinilai Prospek Bagi Sebagian Analis

Posted on

Harga saham emiten bank mini kompak bergerak kencang pada perdagangan Senin (1/12). Kenaikan tinggi ini tak lepas dari jadwal aksi korporasi lewat mekanisme rights issue yang akan digelar bank-bank tersebut di penghujung tahun ini.

Sejumlah analis menyebut, pergerakan kencang saham bank-bank mini atau bank digital itu terdorong oleh jadwal ex date rights issue atau jadwal perdagangan saham tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) meraka yang memang jatuh pada hari kemarin. Diantaranya PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) dan PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO)

Menurut Analis Binaartha Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan pandemi Covid-19 telah meningkatkan kinerja dan gengsi bank-bank kecil untuk bertransformasi menjadi bank digital, apalagi ada dorongan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar bank kecil segera menambah modal inti, minimal Rp 3 triliun.

“Saat sebelum pandemi perbankan stagnan dan dengan adanya faktor pandemi dan lonjakan saham yang signifikan, perspektif bank digital ini kuat,” jelas Nafan dalam program Invest Time CNBC Indonesia TV, dikutip Kamis (1/12/2021).

“Kalau menurut saya ke depan, peluang dalam rangka digitalisasi perbankan akan semakin berkembang dan lebih progresif,” kata Nafan melanjutkan.

Ketika perbankan mini melakukan aksi bisnis dalam rangka transformasi ke bank digital, kata Nafan hal ini berdampak kepada pergerakan harga saham. Namun mesti kata Nafan, fundamental bank mini bermacam-macam, ada yang menunjukkan kinerja positif dan ada juga yang minus.

Saham-saham yang bank digital yang melonjak signifikan seperti PT Bank Jago Tbk (ARTO), yang saat ini tampak sudah mulai konsolidasi. Menurut Nafan bisa dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi, karena ARTO memiliki level resistensi di Rp 13.825/saham.

Selanjutnya untuk saham PT Bank Net Syariah Indonesia (BANK) yang berkomitmen terhadap sektor syariah, direkomendasikan untuk bisa dikoleksi sahamnya.

“Ketabalan financial syariah akan pesat ke depannya. Apalagi dulu saja, ketika terdapat merger 3 Bank BUMN Bank Syariah mendorong kinerja signifikan, BANK juga bisa untuk menguat atau atraktif. Kalau terkoreksi bisa strategi averaging,” jelas Nafan.

Kemudian untuk PT Bank Harda Indonesia (BBHI) dan PT Bank Bisnis Indoesia Tbk (BBSI) masih wait and see untuk konfirmasi aksi korporasi selanjutnya. Lalu untuk BBYB yang juga sempat terkoreksi, koreksi tersebut dinilai wajar.

“Kalau menurut saya ke depan, peluang dalam rangka digitalisasi perbankan akan semakin berkembang dan lebih progresif,” kata Nafan melanjutkan.

Ketika perbankan mini melakukan aksi bisnis dalam rangka transformasi ke bank digital, kata Nafan hal ini berdampak kepada pergerakan harga saham. Namun mesti kata Nafan, fundamental bank mini bermacam-macam, ada yang menunjukkan kinerja positif dan ada juga yang minus.

Ketika perbankan mini melakukan aksi bisnis dalam rangka transformasi ke bank digital, kata Nafan hal ini berdampak kepada pergerakan harga saham. Namun mesti kata Nafan, fundamental bank mini bermacam-macam, ada yang menunjukkan kinerja positif dan ada juga yang minus.

Saham-saham yang bank digital yang melonjak signifikan seperti PT Bank Jago Tbk (ARTO), yang saat ini tampak sudah mulai konsolidasi. Menurut Nafan bisa dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi, karena ARTO memiliki level resistensi di Rp 13.825/saham.

Selanjutnya untuk saham PT Bank Net Syariah Indonesia (BANK) yang berkomitmen terhadap sektor syariah, direkomendasikan untuk bisa dikoleksi sahamnya.

“Ketabalan financial syariah akan pesat ke depannya. Apalagi dulu saja, ketika terdapat merger 3 Bank BUMN Bank Syariah mendorong kinerja signifikan, BANK juga bisa untuk menguat atau atraktif. Kalau terkoreksi bisa strategi averaging,” jelas Nafan.